Pendidikan Dasar LogoPendidikan Dasar

Beberapa Teori Pendidikan

1. Ki Hajar Dewantara

Bagaimana siswa belajar menurut Ki Hadjar Dewantara tergambar dalam prinsip N3 yaitu Niteni, Nirokake, Nambahi. Istilah ini tidak (belum) kami temukan dalan tulisan langsung Ki Hadjar Dewantara tetapi dari beberapa penulis dan birokrat yang mengungkap prinsip 3N . Kusmayanto K antara lain menyatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara mewariskan pada kita ilmu dan pengetahuan pamungkas, yaitu N3: Niteni, Niroake, dan Nambahake . Pada kesempatan lain beliau menyatakan: Some decades ago, Ki Hajar Dewantoro, well known as “Bapak Pendidikan” to Indonesian people, asserted his famous phrase: niteni, niroake, nambahake (N3). A reflection on the meaning behind this phrase, we will find a message that is increasingly important to our understanding on invention and innovation. Niteni (to inquire), niroake (to imitate), nambahake (to innovate), are key concepts used in recent literature on innovation theories. The N3 rule emphasizes three essential cognitive aspects of invention and innovation, whatever the contexts are (modern or traditional communities, business or research enterprises, for-profit or non for-profit businesses) . H. Herry Zudianto Walikota Jogja dalam peresmian area playground dan gedung PAUD antara lain menyatakan: arena plyground dirancang untuk merangsang imajinasi dan kreativitas anak sebagaimana misi Taman Pintar yakni untuk menumbuhkembangkan ketertarikan anak untuk belajar dan kreatif dalam sains dan teknologi melalui imajinasi , dugaan dan percobaan. Hal ini, sejalan dengan pepatah dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, yakni niteni, niroke, dan nambahi . Masrukhul Amri seorang Knowledge Entrepreneur menyatakan ada sebuah pelajaran luar biasa dari Ki Hajar Dewantoro dengan konsep 3 N yaitu Niteni. kedua, Neroake, dan ketiga Nambahi.Selengkapnya

2. Teori Gestalt

Pekerjaan yang berkaitan dengan masalah belajar yang sangat terkenal dilakukan oleh Kohler antara 1913 dan 1917 di Stasiun Universitas Berlin Tenerife, Kepulauan Canary. Gestalt berasumsi bila suatu organisme dihadapkan pada suatu problem, maka kedudukan kognisinya tidak seimbang sampai problem tersebut dipecahkan. Kognisi yang tidak seimbang tersebut, akan mendorong organisme untuk mencari kesimbangan system mental. Menurut hukum pragnanz, kognisi yang seimbang akan memuaskan dari pada kognisi yang tidak seimbang. Dalam hal ini gestalt setuju dengan Guthrie dan Hull. Problem tersebut tetap merupakan stimulus (drive pada Hull), sampai problem itu terpecahkan. Tugas-tugas yang tidak lengkap akan diingat lebih lama dan lebih mendalam daripada yang sudah lengkap (seimbang). Menurut gestalt belajar adalah fenomena kognitip. Organisme akan melakukan pemecahan setelah menghadapi suatu masalah. Organisme akan berpikir tentang semua bahan yang diperlukan untuk memecahkan masalahnya, dan mengambil suatu cara, kemudian cara yang lain, sampai problem tersebut terpecahkan. Organisme itu menemukan insight untuk memecahkan problem. Problem tersebut ada dua, yaitu yang tidak dapat dipecahkan dan yang dapat dipecahkan. Thorndike percaya bahwa belajar adalah kontinyu dalam peningkatan secara sistematis sebagai fungsi dari trial an error (mencoba-coba). Gestaltist percaya bahwa suatu problem ada yang dapat dipecahkan dan ada yang tidak dapat dipecahkan, belajar tidak kontinyu, untuk hal ini sampai sekarang masih diperdebatkan.Selengkapnya

3. Teori David Ausuble

David Ausubel adalah orang yang satu-satunya mengkritik discavery learning. Dia mempersoalkan bahwa siswa tidak selalu tahu apa yang penting atau relevan,dan banyak siswa membutuhkan motivasi exsternal untuk melakukan tugas-tugas kognitif (Sri Esti W.D.,1989:85). Ia menyampaikan satu alternatif model pengajaran yang disebut reception learning. Ahli-ahli teori reception menyarankan bahwa tugas guru adalah bagiamana menyusun situasi belajar, memilih materi-materi yang tepat untuk siswa dan kemudian menyampaikan dalam bentuk pelajaran yang terorganisasi dengan baik, mulai dari yang umum ke hal yang khusus. Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama adalah berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu di sajikan kepada siswa, melalui penerimaan atau penemuan. Belajar penerimaan dimaksudkan adalah siswa menerima informasi atau materi pelajaran dalam bentuk sudah ”fixed” atau final. Sedangkan belajar penemuan dimaksudkan adalah siswa di harapakan dapat menemukan sendiri informasi atau konsep dari materi pelajaran yang disampaikan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah di peroleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa. Jika siswa dapat mengaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada, maka akan terjadi proses belajar makna. Akan tetapi jika di dalam diri siswa belum ada struktur kognitif yang mendasari pembelajaran baru atau siswa tidak dapat mengkaitkan pembelajaran baru dengan konsep-konsep yang telah ada maka yang terjadi hanyalah belajar hafalan. Kedua dimensi, baik ditinjau dari bagaimana cara materi pelajaran disampaikan maupun bagaimana cara siswa belajar tidak merupakan sesuatu hal yang dikotomi. Jadi kita tidak dapat mengatakan suatu proses belajar mengajar itu 100% penemuan atau penerimaan. Kita hanya dapat mengatakan sejauh mana kadar ”penemuan” atau kadar ”Penerimaan” dari suatu proses belajar mengajar.Selengkapnya



Copyright, Nila Prawitasari


Bahan Lain